Al-Aqsha Target Utama Penjajahan Zionis

Al-Aqsha Target Utama Penjajahan Zionis

Penjajahan di Bumi Palestina berdampak kepada kehancuran di segala aspek kehidupan, baik fisik maupun material. Arogansi dan kebrutalan Zionis Israel dalam menjajah dan melancarkan aksi kebiadabannya nampak jelas disaksikan masyarakat Dunia. Saking brutalnya, Zionis menjadikan Palestina sebagai target sasaran percobaan senjata-senjata baru, yang tidak hanya dapat mematikan sasaran, namun menimbulkan beragam dampak kerugian lain di kemudian hari.

Penjajahan Zionis Israel terhadap Palestina merupakan penjajahan kontemporer terlama sepanjang sejarah yang masih terjadi hingga saat ini. Sejak 1948 hingga saat ini kehancuran dan kerugian yang dialami rakyat Palestina mencakup seluruh sendi kehidupan. Belakangan Zionis Israel berani melakukan perusakan dan penistaan terhadap Masjid Al-Aqsha yang menjadi kiblat pertama Umat Islam setelah diturunkannya syariat kewajiban shalat lima waktu. Hal ini menandakan kezaliman Zionis Israel belakangan semakin menjadi-jadi, di tengah lemahnya kepemimpinan Dunia Arab. Sejak pendudukan Al-Quds tahun 1967, Zionis Israel selalu bergerak dengan banyak perhitungan dan pertimbangan untuk menistakan Masjid Al-Aqsha, karena salah satu langkah saja bisa menimbulkan protes besar dari rakyat Palestina dan Arab secara umum. Itulah yang terjadi pada peristiwa intifadhah pertama yang disebut dengan intifadha batu dan kedua yang disebut dengan intifadhah Al-Aqsha. Sebelumnya, pembakaran sebagian wilayah Masjid Al-Aqsha menuai protes besar-besaran dari Dunia Arab, sehingga terbentuk Organisasi Konferensi Islam (OKI).

Sementara, tepatnya sebelum tahun 2007 Zionis Israel selalu membantah pernyataan bahwa mereka sedang melakukan misi penghancuran Masjid Al-Aqsha. Namun sejak 6 Februari 2007 secara terang-terangan Zionis israel mengumumkan kepada dunia bahwa mereka telah mulai proyek penghancuran Masjid Al-Aqsha.

 

Pakar masalah Al-Quds dan Al-Aqsha, Suud Abu Mahfudz menyebutkan, tanah dimana Al-Haram Masjid Al-Aqsha dan Qubbah Sakhra saat ini berdiri posisinya berada di atas lautan terowongan yang digali oleh 25 organisasi Zionis untuk satu tujuan yang sama, yakni membangun kembali Kuil Sulaiman (The Solomon Temple) di atas lokasi Masjid. Pernyataan ini diungkapkan Abu Mahfudz dalam seminar tentang Al-Quds yang diadakan organisasi Reformasi Sipil di Kuwait, Rabu sore (21/10).

Ketika gerakan Zionisme Internasional menyelenggarakan kongres pertama di Bassel, Swiss, tahun 1897, Theodore Hertzl menyerukan agar semua Yahudi melakukan diaspora berbondong-bondong memenuhi Tanah Palestina yang disebutnya sebagai ‘tanah yang dijanjikan’. Atas klaim sepihak, kaum Zionis Israel mengatakan bahwa Kuil Sulaiman berada di bawah tanah Masjid Al-Aqsha. Sebab itu, mereka mengatakan tidak ada pilihan lain kecuali menghancurkan Masjid Al-Aqsha dan kemudian membangun kembali Kuil Sulaiman di atasnya. Bagi kaum Zionis, Kuil Sulaiman merupakan pusat dari dunia. Bukan Mekkah, bukan pula Vatikan. Kuil Sulaiman adalah pusat seluruh kepercayaan dan pemerintahan segala bangsa. Keyakinan tersebut dilandasi keyakinan Yudaisme yang telah bergeser jauh dari Taurat yang dibawa oleh Musa A.S. Bangsa Yahudi meyakini bahwa di suatu hari nanti seorang Messiah (The Christ) akan mengangkat derajat dan kedudukan bangsa Yahudi menjadi pemimpin dunia. Selanjutnya akan memimpin Dunia dari kerajaan tersebut. Keyakinan itu mendorong Zionis untuk menghancurkan Masjid Al-Al-Aqsha.

Kaum Zionis selalu berupaya agar bisa menghilangkan Al-Aqsha dari bumi Palestina sejak pertama kali mereka menapakkan kaki di Al-Quds. Beragam agenda penistaan dan penghancuran terus digulirkan. Diantara yang intens dilakukan adalah penggalian di lokasi bawah dan sekitar Masjid, seringkali dengan mengangkat alasan riset arkeologis. Al-Aqsha Foundation mengungkapkan bahwa melalui penggalian terowongan ini penjajah Zionis Israel berusaha terus menambah dan menghubungkan terowongan satu dengan lainnya yang berada dibawah serta disekitar masjid Al Aqsha. Pihaknya menyatakan bahwa sebagian besar penggalian yang dilakukan Zionis Israel bertujuan untuk menghancurkan situs-situs Arab dan Islam di Al-Quds, selain untuk mewujudkan ambisi mereka membangun kembali Kuil Sulaiman (The Solomon Temple) di atas reruntuhan Masjid Al-Aqsa, walaupun sampai saat ini tujuan tersebut merupkan tujuan tanpa dasar kebenaran dan fakta-fakta sejarah yang menunjukkan posisi Kuil di atas tanah Masjid Al Aqsha. Belakangan, Zionis Israel mengalirkan air bergelombang dalam jumlah besar, dengan tujuan melemahkan kekuatan tanah di bawah Masjid dan agar pondasi Masjid menjadi rapuh. Hingga saat ini banyak pondasi Masjid yang sudah rapuh, gempa bumi dengan kekuatan kecilpun bisa menyebabkan runtuhnya sebagian bangunan Masjid.

Harian Israel Haaretz edisi Selasa (25/11) lalu mengabarkan, bahwa sebuah lembaga yang dikepalai oleh Rabbi Yahudi konservatif Eliyahu Malae dan baru diresmikan belum lama ini di bagian barat al-ajamai, sebuah distrik yang banyak dihuni oleh penduduk Palestina di kota Yafa, beroperasi secara diam-diam dengan tujuan menduduki dan menghancurkan Masjid Al-Aqsa, untuk kemudian mendirikan kuil ketiga di atas reruntuhannya. Lembaga tersebut menghimpun puluhan anggota yang sebagian besar berasal dari unsur pemuda Yahudi, didatangkan bersama Eliyahu dari Tel Aviv, ibu kota Zionis Israel. Eliyahu Malae sendiri tercatat sebagai salah seorang ketua gerakan “Etiret Kohanem”, sebuah gerakan yang beroperasi secara khusus untuk melakukan Yahudisasi bagian Timur kota Al-Quds.

Eliyahu mengatakan, bahwa berdirinya Israel Raya dengan ibu kota Yerusalem, serta berdirinya kembali kuil ketiga di atas bukit Zion merupakan cita-cita umat Yahudi. Ia mengatakan, “suara sebagian Yahudi yang mengatakan bahwa penghancuran Masjid Al-Aqsa akan mengakibatkan penghancuran negara Israel itu sendiri adalah suara bodoh dan pengecut,” ungkapnya sebagaimana dilansir Islamonline (25/11).

Selain bergerak untuk menghancurkan al-Aqsa, lembaga pimpinan Eliyahu tersebut juga beroperasi untuk yahudisasi kota Yafa, yang banyak dihuni penduduk Palestina. Eliyahu secara intens menyerukan kepada penduduk Israel di Tepi Barat dan ibu kota Tel Aviv untuk pindah bersama keluarga mereka ke Yafa. (Hidayatullah.com, 01/12/08). Wallohu a’lam.

 

Muhammad Ilham

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *