Video - Jejak Ahed Tamimi, Srikandi Cilik dari Palestina

Oleh: Kholid Abdullah

 

Ahed Tamimi | Siapa yang tidak mengenal gadis 16 tahun ini ? Aksi tangan kosongnya memukul dan menampar tentara Israel telah memancing perhatian internasional (Skrol ke bagian tengah laporan ini untuk menyaksikan rekaman video aksi penamparan tersebut). Cuplikan kisah seorang gadis yang mempertahankan rumahnya dari tentara bersejata lengkap yang merepresentasikan realita penjajahan Israel. Ahed telah membuktikan bahwa seorang diripun mungkin untuk berbuat melawan penindasan dan mengubah dunia. Baginya, apakah itu tikaman atau bom bunuh diri, atau melempar batu, setiap orang perlu melakukan sesuatu dan bersatu agar pesan bisa tersampaikan kepada siapa saja yang merindukan kemerdekaan. Bagi banyak rakyat Palestina, Ahed adalah pahlawan perjuangan mereka di era digital. Meski sekarang harus mendekam di dalam penjara penjajah, menurut Basim,  ayah Ahed, ini bukanlah kekalahan tapi justru putrinya telah menjadi simbol kemenangan.

 

Nabi Saleh dan Keluarga Tamimi

 

Nabi Saleh adalah nama sebuah desa kecil dimana Ahed bersama keluarga besar Tamimi tinggal. Desa ini masuk dalam wilayah Ramallah dan Al-Bi’rah yg menjadi bagian Tepi Barat. Tahun 2016 desa ini tercatat dihuni oleh 600 orang, 350 diantaranya pernah mengalami luka-luka dan 50 menderita cacat akibat senjata Israel yang dipergunakan untuk membubarkan aksi-aksi protes warganya. Sejak tahun 2009, warga secara rutin menggelar aksi protes menentang penjajahan Yahudi yang telah merebut tanah dan sumber mata air desa mereka untuk mendirikan pemukiman Yahudi bernama Halamish.

 

Keluarga Tamimi dikenal berada pada garis terdepan dalam perjuangan menuntut kemerdekan tanaha air mereka. Diantara nama-nama yang mengharumkan keluarga Tamimi al: Mustafa Tamimi, yang 11 Des 2011 ditembak dari jarak dekat oleh Israel menggunakan kanister gas air mata hingga luka parah dan menyebabkannya tewas; Rushdi Tamimi, pada 19 Nov 2012 berusia 28 tahun dibunuh dengan cara ditembak oleh pasuka Israel dalam sebuah demo solidaritas terhadap penduduk Jalur Gaza.

 

Ayah Ahed, Basim Tamimi lahir tahun 1967 tahun dimana Israel merampas Tepi Barat,  Jerusalem Timur, Gaza, dan Dataran Tinggi Golan melalui perang 6 hari. Dia bersama isterinya Nariman adalah salah seorang penggerak protes. Pasangan suami isteri ini pernah berkali-kali dijebloskan ke dalam penjara Israel, bahkan pernah mendekam di penjara selama 3 tahun tanpa ada proses peradilan hingga Uni Eropa menyematkan gelar untuknya sebagai Pejuang Pembela HAM.

 

Kemarahan Ahed di hari Jumat itu…

15 Desember 2017
Di desa Nabi Saleh, seperti biasa tiap Jumat, warga desa menggelar aksi protes rutin. Hari itu temanya sama dengan yang sedang digaungkan di seluruh dunia yaitu penolakan atas keputusan Trump yang secara sepihak mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

 

Tentara Israel tidak tinggal diam, dan kali ini mereka bertindak lebih brutal menembakkan gas air mata ke arah warga termasuk juga di sekitar rumah keluarga Tamimi hingga menyebabkan kaca-kaca jendela pecah berserakan.  Tidak cukup dengan gas air mata, tentara-tentara biadab ini juga menggunakan peluru karet mentarget para demonstran terutama dari kalangan remaja.

 

Mohammed Tamimi, sepupu Ahed menjadi korban kebiadaban ini (Klik untuk membaca kisah tentang Muhammad). Dia ditembak tepat diwajahnya.  Sebutir peluru karet menembus tepat di bawah hidungnya lalu menembus tulang rahang  sebelum bersarang di dalam tengkoraknya. Darah memancar bak air mancur merubah suasana udara menjadi penuh kesedihan bercampur kemarahan.

 

Dia dilarikan ke rumah sakit dan warga berkumpul berkumpul di sana untuk menunjukkan solidaritas kepada keluarga Tamimi bahkan sebagian turut menyumbangkan darah. Mohammed harus tinggal di ruang operasi selama 6 jam ditangani oleh 7 orang dokter Palestina. Dia baru terbangun dari koma 72 jam pasca peristiwa tragis di hari itu.

 

Masih di hari Jumat yang sama, dan udara masih diselimuti kesedihan dan kemarahan, khususnya di rumah keluarga Tamimi. siang hari itu datang dua orang tentara Israel memasuki halaman rumah Ahed. Tanpa rasa takut, dengan didampingi Nur, sepupunya, srikandi Palestina ini keluar dan mendorong mundur tentara itu.

 

“Keluar dari sini !” teriaknya.
Didorongnya salah seorang tetara itu sebelum memukulnya dan mengangkat tinju kanannya yang berhasil dibelokkan oleh tentara biadab itu.
“Jangan sentuh aku!” teriaknya di muka tentara itu. Lalu dia mencoba gerakan untuk menampar wajahnya.

 

Kejadian singkat ini sempat direkam oleh ibunda Ahed, Nariman yang kemudian mempostingnya di facebook hingga akhirnya rekaman di hari Jumat itu menjadi viral di dunia maya.

 

Reaksi Israel

 

Sungguh memilukan melihat kerapuhan jiwa sebuah negara kuat yang disebut memiliki kelengkapan senjata tercanggih namun harus bergetar ketakutan menghadapi perlawanan seorang gadis kecil yang tidak berdaya.

 

Sabtu, 16 Des 2017, Arigdor Lieberman, Menhan Israel dikutip berkomentar: ” Setiap orang yang terlibat, tidak hanya gadis itu, tapi juga orang tuanya, dan mereka yang di sekelilingnya, tidak akan selamat dari apa yang sepantasnya mereka peroleh.”

 

Ahad 17 Des 2017, Nattali Brunett, Menteri Pendidikan Israel mengatakan: “Ahed, sepupunya, dan gadis lain yang ada dalam video Jumat lalu harus menghabiskan hidupnya di dalam penjara.”

 

Ketika penjajah harus menahan dan memenjarakan seorang anak gadis kecil dikarenakan dia telah melawan pencaplokan mereka yang tidak sah, maka sepantasnyalah penjajah itu tahu bahwa dia telah menang di dalam pertarungan ini tapi telah kalah dalam peperangan. Penjajah boleh memiliki kekuatan finansial dan militer di atas dunia ini tapi itu semua tidak akan pernah cukup untuk mencuci kedua tangannya yang penuh dengan lumuran darah.

 

 

Operasi Penangkapan Ahed

 

19 Des 2017, jam 03.00 dini hari

 

Itu masih tengah malam saat Basim dibangunkan oleh suara teriakan orang dan pintu rumahnya yang digedor. Basim membukanya untuk kemudian didorong menyingkir oleh 30 orang tentara yang merangsak masuk.

 

Mereka kumpulkan semua anggota keluarga Basim ke dalam satu ruangan, mengaduk-aduk isi rumah, melempar pakaian dan barang-barang ke lantai dan membuat seisi rumah jadi berantakan.

 

Mereka lalu memberitahu bahwa Ahed ditahan tanpa menjelaskan alasannya.
Nariman menangis histeris dan berusaha memeluk puterinya. Tapi tentara-tentara itu tidak membiarkannya dan melemparkan sang ibu ke lantai.

 

Kedua tangan Ahed diikat lalu digiring ke jeep militer  yang sudah menunggunya di luar. Keluarga Basim dicegah untuk mengikutinya keluar.

 

Tentara-tentara itu telah merampas hp, komputer, laptop. Saat Adik Ahed yang berusia 14 tahun menolak menyerahkan hpnya, enam orang tentara mendorongnya dan mengambil hp itu darinya dengan paksa.

 

Sewajarnya kedua orang tua Ahed khawatir dengan penangkapan puterinya. Mereka berdua memang terbiasa keluar masuk penjara tapi bagi putri mereka itu adalah pengalaman pertamanya. Dan yang menahannya adalah orang-orang yang tidak menganggap rakyat Palestina sebagai manusia yang utuh.

 

Maka siang hari menjelang sore hari, Nariman mendatangi pos polisi dekat desa Jabar Distrik Yerusalem yang masuk wilayah Tepi Barat. Dia mendapat info bahwa puterinya ditahan di sana dan ingin mendampinginya dalam proses interogasi perdananya.

 

Tapi nasib malang, setibanya di pos polisi wanita yang berduka ini ikut ditangkap dan tidak pernah kembali lagi ke rumahnya.

 

Keesokan harinya 20 Desember, Nur sepupu Ahed yang terlihat juga dalam video viral itu ikut ditangkap meski dua minggu setelahnya dibebaskan dengan jaminan.

 

Adapun Ahed tidak bisa bebas walau dia masih anak-anak dan dengan jaminan sekalipun. Karena pengadilan Israel menyatakan srikandi ini adalah sungguh sangat berbahaya.

 

Rabu 17 Januari 2018, kurang lebih satu bulan pasca penangapannya, Hakim pengadilan militer Israel memutuskan penahanan terhadap Ahed selama menjalani proses persidangan, yang diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan. Dia didakwa dengan 12 tuduhan diantaranya: melempari batu, melakukan ancaman, dan melakukan hasutan. Jika terbukti didepan srikandi cilik ini terbentang ancaman tidak kurang dari 10 tahun penjara.

 

Penahanan Anak-anak dan Penjara Israel

 

Israel adalah satu-satunya negara yang secara sistematis menahan dan menuntut anak-anak melalui sistem pengadilan militer tanpa proses yang benar.

 

Negara zionis ini menahan anak-anak Palestina berusia 12-17 tahun setiap tahunnya  dimana 75 % dari anak-anak ini menjadi korban kekerasan fisik saat penangkapan, dan 97 % diinterogasi tanpa kehadiran orang tua.

 

Yang paling umum adalah akibat aksi pelemparan batu. Remaja Palestina biasa mendapat hukuman penjara 6-9 bulan karena melempari batu.  Di Tepi Barat, dimana penduduk Palestina berada di bawah hukum militer Israel, melempar batu bisa diganjar dengan hukuman hingga 20 tahun penjara.

 

Israel sengaja mentarget anggota termuda dan paling rentan dari keluarga Palestina yang aktif secara politik untuk menekan keluarga mereka dan seluruh lapisan masyarakat agar mengakhiri semua aksi mobilisasi sosial. Ini untuk menunjukkan kepada remaja Palestina apa yang akan terjadi jika mereka melakukan aksi perlawanan.

 

Menurut informasi Kemenlu AS, anak-anak yang berada dalam tahanan militer mengalami penyiksaan dengan cara dipukuli, diikat kedua tangannya dalam waktu lama, diancam, diintimidasi dan ditempatkan di ruangan sendirian.

 

Dukungan internasional

 

Ada banyak kalangan yang menyuarakan dukungan bagi Ahed, mulai dari Presiden Mahmoud Abbas hingga anggota parlemen Inggris.
Persidangannya Rabu lalu dihadiri perwakilan lembaga internasional termasuk Uni Eropa dan Amnesty Internasional.

 

Kelompok-kelompok HAM mengkritik penangkapan srikandi ini dan Uni Eropa menyebut penangkapannya melanggar Konvensi “International Child Welfare”.

 

Sebenarnya, ini bukan kali pertama srikandi cilik ini dikenal dunia internasional dan menjadi singa di dunia maya karena foto aksinya yang kerap mengkonfrontir tentara Israel. Pada tahun 2012, dia pernah diundang ke Turki oleh Presiden R.T. Erdogan setelah fotonya yang sedang mengepalkan tinju ke arah seorang tentara Israel menjadi viral. Di tahun 2015, kembali fotonya menjadi viral saat sedang menggigit tangan tentara Israel yang mencoba membunuh adik laki-lakinya dengan cara menindih di atas dadanya. Berlanjut di tahun 2016, kembali dia tertangkap kamera sedang berhadap-hadapan dengan beberapa tentara Israel dengan gagah berani.

 

Ahed dan anak-anak Palestina

 

Apa yang dialami Ahed mewakili gambaran kehidupan ratusan ribu anak-anak di Tepi Barat dan Gaza.

 

Mereka bukanlah remaja seperti pada umumnya. Mereka membayar harga psikologis yang mahal atas apa yang mereka alami dalam kehidupan mereka sehari-hari.

 

Pengalaman rutin melewati cek poin, pemukiman Israel, tanah mereka yang di rampas, tentara yang merendahkan orang tua mereka. Semua menjadi pemandangan sehari-hari yang menumbuhkan kemarahan di dalam jiwa.

 

Anak-anak ini bersikukuh mengatakan tidak takut kepada tentara bersenjata yang dijumpainya setiap hari. Anak-anak yang menyembunyikan kegelisahannya terkadang berteriak keras mengigau dalam tidurnya dan terbangun dengan tersedu-sedu.

 

Pemandangan rutin anak-anak yang melempari batu ke arah tentara Israel yang kemudian dibalas dengan gas air mata, peluru karet, water canon dan bahkan peluru sungguhan.

 

Mereka tumbuh dalam lingkungan keras itu. Sudah tidak sanggup mereka ingat berapa kali gas air mata mengenai mereka tapi masih sangat jelas di mata bagaimana penggerebegan militer terhadap rumah mereka, merekam dalam dada orang tua mereka yang ditangkap dan paman mereka yang menggeliat di tanah setelah terkena tembakan.

 

“Kami ingin memerdekakan Palestina. Kami ingin hidup layaknya orang merdeka. Tentara-tentara itu ada di sini untuk melindungi pemukim Yahudi dan mencegah kami mencapai tanah kami sendiri.”

 

Itulah kehidupan Ahed Tamimi, srikandi cilik  Palestina di dalam Desanya Nabi Saleh. Representasi bagi anak-anak yang yang terjajah di desa-desa Palestina. Semoga Allah menjaganya dan semua anak-anak Palestina yang terus berjuang untuk meraih kemerdekaan. (i7)

, , , ,

2 thoughts on “Video - Jejak Ahed Tamimi, Srikandi Cilik dari Palestina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *