65 Tahun Prahara Palestina dan Berdirinya ‘Israel’

Hari ini 15 Mei adalah peringatan 65 tahun “Prahara Palestina” dan berdirinya negara Israel. Pertanyaan yang sering muncul sejauh mana perubahan-perubahan demografi yang terjadi dan apa saja target yang belum diwujudkan oleh Israel dalam menjajah Palestina dan mengusir warganya.

Gerakan zionis dan ‘Israel’ memiliki dua cara fokus utama menciptakan gambaran demografi agar yahudi menjadi mayoritas atas Arab Palestina. Pertama; melakukan pembantaian-pembantaian yang ujungnya mengusir mayoritas warga Palestina dari tanah air mereka. Mafia yahudi mampu menggelar 44 aksi pembantaian di tahun 1948 dengan dukungan mutlak Inggris. Akibatnya, 850 ribu warga Palestina kala itu terusir dari tanah air mereka hingga 15 Mei 1948.  Jumlah pengungsi itu berasal dari 531 kota dan desa-desa Palestina.

Jumlah pengungsi Palestina di awal tahun 2013 sekitar 6 juta pengungsi, 5 juta di antaranya adalah terdaftar di UNRWA. Jordania menampung 41% dari jumlah pengungsi itu, 22% ditampung di Jalur Gaza, 16% dari Jalur Gaza, 10,5% ditampung di Suriah dan Libanon. Selain itu ada beberapa ribu pengungsi Palestina yang tinggal di Mesir, Irak, dan pengungsi diaspora meski mereka tidak terdaftar di UNRWA.

Fokus kedua; menciptakan status quo demografi Israel dengan menarik warga Yahudi dari luar negeri ke Palestina terjajah. Gerakan zionis menarik 650 ribu Yahudi dari berbagai penjuru dunia sebagai bahan materi dasar berdirinya negara ‘Israel’ pada 15 Mei 1948 setelah melakukan aksi pembersihan etnis sistematis.

Perang pembersihan etnis yang digelar zionis berlangsung di Palestina dari 30 November 1947 – tanggal voting Dewan Keamanan PBB untuk mengakhiri pemerintah mandate Inggris di Palestina dan rencana PBB soal pembagian wilayah – tanggal akhir mandate Inggris di 15 Mei 1948.

Hingga akhir mandat Inggris di tahun 1948, Yahudi hanya menguasai dan memiliki 5,8% kira wilayah Palestina. Ketika Inggris menjajah Palestina tahun 1917, jumlah Yahudi hanya 50 ribu. Ketika Inggris menginggalkan Palestina jumlah mereka menjadi 10 kali lipat hingga mencapai setengah juta Yahudi. Yahudi membeli senjata dan perlengkapan perang dari tentara Inggris di Palestina, 24 di antara pesawat senilai 5 juta Junaih (Mesir). Ini menjadi fase pertama perang Palestina 1948. Warga Arab Palestina terlibat perang dengan zionis. Yang seharusnya Inggris bertanggungjawab menjaga pemerintahan namun mereka meninggalkan Palestina untuk Yahudi menjajah dan menguasai lebih besar wilayah Palestina. Warga Palestina mulai melakukan koordinasi membela diri. Di akhir 1947, mereka ke Damaskus, Beirut, Kairo untuk membekali diri dengan senjata dan latihan menggunakannya. Di awal tahun 1948, meski mandat Inggris masih bercokol, biro Yahudi sudah menguasai secara riil Palestina baik pemerintahan atau militer. Pasukan mafia Hagana Yahudi berjumlah 35 ribu disamping 10 ribu pasukan unit Comandos Palmach dan mafia Aragon dan Sterin.

Sementara jumlah pasukan revolusi Palestina setelah digerus oleh mandat Inggris hanya 2500 orang dan 4000 relawan Arab dan Palestina yang disebut dengan pasukan penyelamat yang masuk ke Palestina secara bertahap dengan pimpinan Fawzi Qawuji. Artinya hingga 15 Mei 1948, satu orang Palestina atau Arab hanya memiliki senjata ringan dan sederhana menghadapi enam warga Yahudi dengan bekal senjata canggih modern baik darat atau udara.

Awal 1948 sejumlah ledakan yang didalangi oleh mafia Hagana di Yafa, Haifa. Korbannya adalah Palestina dan tujuannya adalah mengusir warga asli Palestina dari tempat tinggal mereka. Mafia Hagana dan Palmach kemudian mengusir warga Palestina. Saat itu, Yishak Rabbin adalah komandan lapangan mafia Palmach yang memimpin pengusiran warga Palestina dari desa Qisriah di Haifa tengah dan menghancurkannya.

Dalam memonya David Ben Gurion menegatakan, “setiap serangan harus menjadi pukulan telak untuk menghancurkan rumah dan mengusir warga Palestina”.

Meski ada perlawanan militer dari Palestina seperti yang dipimpin Abdul Qadir Husaini, Hasan Salamah serta Fawzi Qawuji dan tanpa koordinasi namun tidak banyak berpengaruh. Beliau gugur di desa Qistal jalan menuju Al-Quds setelah melakukan perlawanan panjang.

Setelah itu zionis terus berusaha menarik warga Yahudi ke Palestina. Aksi ini tidak pernah berhenti. Hingga tahun 2013, jumlah eksodus yahudi ke Palestina mencapai 6.042.000 Yahudi. 40% dari mereka adalah Yahudi barat Ashkenazi, 36% yahudi timur Sephardic, sementara Yahudi Sabira yang dilahirkan di Palestina sebanyak 24% dari total keseluruhan.

Mafia-mafia zionis di tahun 1948 mengusir sebanyak 850 ribu warga Palestina yang saat itu mereka adalah 61% dari total warga Palestina yang mencapai 1.4 juta penduduk. Mereka akhirnya menjadi pengungsi dan jumlah mereka kini di tahun 2013 menjadi enam juta pengungsi. 80,5% saat mereka diusir lari ke Tepi Barat dan Jalur Gaza, 19,5% lari ke negara-negara Arab Suriah, Jordania, Libanon dan Mesir serta Irak. Sebagian lagi ke Eropa dan Amerika atau ke negara-negara teluk.

Tahun 1967 Israel melakukan pengusiran kembali terhadap 460 ribu warga Palestina setelah mereka menjajah Tepi Barat dan Jalur Gaza. Jumlah itu kini membengkak menjadi 1,4 juta.

Sementara itu masih ada 151 ribu warga Arab Palestina saat itu yang masih bertahan di wilayah Palestina yang dijajah Israel atau 78% dari keseluruhan wilayah Palestina yang diperkirakan 27.009 km2. Kebanyakan mereka bertahan di wilayah Jalil. Tahun 2013 jumlah mereka menjadi 1,6 juta orang. Mereka kini berstatus tinggal di ‘negara orang’ atau negara ‘Israel’ atau mereka merupakan 20% (minoritas) dari penduduk Israel mayoritas. Warga Palestina yang ini hanya memiliki 2% tanah saja dari wilayah yang dikuasai ‘Israel’. Meski demikian, total jumlah warga Palestina baik di dalam wilayah Israel atau luar mencapai 11,6 juta warga di awal tahun 2013. Dari jumlah itu, 50%nya tinggal di wilayah Palestina bersejarah (Jalur Gaza, Tepi Barat, dan wilayah jajahan 1948) dan 50% lainnya di luar negeri. Jika digabungkan antara warga Palestina yang tinggal di Palestina dan negara-negara Arab mencapai 80% dan sisanya di wilayah luar Arab.

Sementara jumlah total warga yang “berstatus Israel” hingga 2013 mencapai 8.020.000 warga, 75,3% asli Yahudi, 20,7% warga Arab yang tinggal di dalam wilayah ‘Israel’, termasuk yang tinggal daerah jajahan Golan  Suriah yang dijajah tahun 1967 dan masih ditambah 4% warga Kristen non Arab.

Artinya, setelah 65 tahun berdirinya ‘Israel’ dan prahara besar Palestina (1948-2013), fondasi utama proyek zionis ‘Israel’ belum sempurna baik sisi bahan manusianya atau wilayahnya. Ada mata rantai yang masih terputus. Karena itu ‘Israel’ ngotot membangun pemukiman dengan gencar dan membangun yahudisme negara.

Nabel Sahli

Sumber: infopalestina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *